Judul: Mendidik dengan Cinta, Bertahan dengan Doa
Penulis: Akhmad Ari Wibowo, Nadia Afidati, Hari Susetyo, Shoufie Nur Aini, Sugeng Hariadi, Ning Fuadah Karimah Elnur, Libriyanto Priyogo, Munawaro, Syaiful Arif, Hanif Nur Rozaq, Slamet Riadi, Nur Solikin, Yeni Anggun Pratiwi, Faris Al Ayubi, Zumrotul Azizah, Anis Syifaul Qobiya, Basnah Karnain, Ririn Andayani, Meisya NAjelina Tita Risandy, Ainul Hayain, Fenti Nur Aula Imansari
Editor: Dewi Yuhana, Dyah Ayu Pitaloka
Desain Cover, Lay Out & Ilustrasi: Angga Wijanarko
Ukuran: 15,5 x 23 cm
Jumlah halaman: 140 halaman
Penerbit: Deazha Prima Nusantara
ISBN: 978-623-88911-7-7
Buku Mendidik dengan Cinta, Bertahan dengan Doa hadir sebagai kumpulan kisah nyata para guru yang memilih untuk mendidik dengan hati, mengajar dengan keteladanan, dan bertahan dengan doa. Di dalamnya, para guru menuturkan pengalaman mereka dalam mendidik murid-murid di sekolah melalui cerita, sebuah cara yang lembut, alami, dan mudah dipahami oleh siapa pun yang membacanya.
Melalui gaya bertutur, setiap penulis berbagi tentang strategi mengajar yang pernah mereka terapkan, metode yang mereka pilih, hingga media pembelajaran yang mereka gunakan dalam menghadapi beragam karakter anak. Pengalaman mereka dijahit dalam bentuk cerita, sehingga pembaca tidak hanya memahami teori, tetapi merasakan langsung suasana kelas, pergulatan batin seorang guru, serta keindahan kecil yang hadir di tengah proses pendidikan.
Bagaimana Pak Hari membuat Operasi Keajaiban dengan memberi tugas khusus kepada tiga murid spesialnya: Fasa, Ziko, dan Ninda sesuai dengan kemampuan mereka. Hasilnya luar biasa, anak yang biasa main HP berubah menjadi sosok yang menikmati momen saat menjelaskan pelajaran ke teman-temannya, lalu siswa yang dulunya hanya diam mulai berani bertanya, dan siswi yang sebelumnya menutup diri mau terbuka dan aktif membuat poster untuk kelompoknya.
Ada juga kisah Bu Nadia dan strateginya dalam mengajak siswa-siswinya menyukai Bahasa Arab. Menerapkan pesan bapaknya untuk tidak sekadar mengajar, tapi “menyentuh hati” siswa, ia berbenah diri, belajar ulang dan melakukan evaluasi atas pembelajaran dan metode pembelajarannya. Ia tidak menyalahkan siswa, tapi memulai perubahan dari diri sendiri. Bu Nadia kemudian menyisipkan video-video lucu belajar Bahasa Arab dalam pembelajaran, memasukkan lagu Arab populer, membuat game edukatif sampai dengan kuis-kuis kecil berhadiah di kelas. Hasilnya memang tidak semudah mengedipkan mata, butuh proses. Tapi siswa-siswinya mulai bertanya kepadanya tentang kosa kata baru, ada yang menyampaikan salatnya lebih khusyuk karena mulai memahami makna bacaan, dan ada juga yang mengatakan ingin ikut lomba Bahasa Arab.
Ada kisah Bu Ning Fuadah yang menghadapi siswa korban perundungan, tidak hanya oleh teman di sekolah sebelumnya, tapi juga korban kekerasan oleh ayah kandungnya sendiri. Bagaimana obrolan antara guru dan murid bisa menjadi sebuah konsultasi yang menenangkan. Masih ada Bu Shoufie yang belajar empati dan tidak mudah menilai seseorang dari muridnya, lalu Pak Libriyanto, guru Bahasa Inggis yang aktif mengingatkan anak didiknya tentang penggunaan bahasa Jawa krama inggil kepada guru dan orang yang lebih tua, dan masih banyak lagi kisah menarik para guru yang dituliskan dalam buku ini.
Menyampaikan pelajaran melalui kisah sesungguhnya bukan hal baru. Al-Qur’an memuat banyak kisah teladan para nabi, rasul, dan umat terdahulu untuk menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya. Melalui cerita, pesan-pesan agung itu masuk dengan lembut, tidak menggurui, tidak memaksa, tetapi mampu menyentuh hati dan menggerakkan jiwa. Prinsip inilah yang juga hidup dalam setiap kisah yang dituliskan para guru dalam buku ini.
Penerbit Deazha berharap, hadirnya buku ini dapat menginspirasi semakin banyak guru di Indonesia untuk menuliskan pengalaman mereka dalam mendidik anak-anak bangsa. Kisah-kisah mereka bukan hanya rekaman perjalanan pribadi, tetapi juga sumber pelajaran berharga bagi para guru muda yang tengah merintis jalan pendidikan.
Tugas mencerdaskan generasi Indonesia adalah amanah yang kita pikul bersama dengan cinta, dengan kerja keras, dan tentu saja, dengan doa.
