Fastaqim Maka, Istiqamahlah!

  • Judul asli: Fastaqim
  • Alih bahasa: Bakhruddin Fannani
  • Penulis: Dr. Mohammad Umar Qureshi
  • ISBN: 978-623-97665-4-2
  • Penata letak: Eka Tresna Setiawan

Sesungguhnya kebutuhan akan kehadiran Allah SWT dalam kehidupan manusia tidak lain merupakan kebutuhan bawaan manusia sejak lahir yang betul-betul diperlukan, sehingga keberagamaan adalah naluri alami yang terkristal pada manusia, dan merupakan salah satu komponen stabilitas kehidupannya. Karena sebenarnya keberagamaan dianggap sebagai kecenderungan spiritual dalam jiwa manusia yang dengannya dia mampu melintasi kejahatan materialisme, menuju kepada cita-cita mulia kemanusiaan, nan jauh dari kodrat hewani yang rendah. Sesungguhnya manusia terdiri dari dua bagian, yaitu materi; dan yang kedua adalah sesuatu yang maknawi, tidak kasat mata. Materi manusia terdiri atas jasad yang kasat mata, terlihat dan bisa dirasakan. Sedangkan sesuatu yang yang maknawi adalah jiwanya, perasaan-perasaan, pikiran, keinginan, ketakutan, dan lain-lain yang tidak dapat dirasakan oleh panca indera melalui penglihatan, pendengaran, dan sentuhan; karena dia adalah sesuatu yang ada dan bergolak di dalam jiwa manusia. Ia mengekspresikannya dalam bentuk reaksi, tindakan, dan perilakunya terhadap alam sekitarnya. Dengan demikian, manusia adalah jasad yang material sekaligus merupakan entitas spiritual.

Mohammad Umar Qureshi  menemukan bahwa entitas spiritual ini telah membingungkan banyak cendekiawan dan filsuf ketika mereka berusaha memahami esensi entitas spiritual tersebut. Ada yang mengatakan bahwa entitas adalah ruh; ada pula yang membaginya menjadi dua yaitu ruh (ruh) dan diri (nafs). Ada pula yang mengatakan bahwa ia adalah hati nurani dan akal pikiran. Apapun bentuk entitas spiritual itu, maka sesungguhnya perawatannya, pengembangannya, pembimbingannya, dan pengasuhannya tidak akan menemukan jalan yang benar kecuali bila ia berada di bawah naungan payung agama, dan tauhid; karena manusia diciptakan dalam kondisi membutuhkan orang yang mampu memberinya kekuatan moral, dan menggandeng tangannya kepada cita-cita terluhur manusia, serta mengarahkannya untuk istiqamah padanya. Istiqamah merupakan sifat manusia yang mengimbangi sifat alam semesta yang berubahubah, karena segala sesuatu yang ada di sekitar kita berubah-ubah. Dan dalam saat yang sama kita sebagai manusia selalu dihadapkan kepada perubahan, baik yang berkaitan dengan entitas fisik maupun entitas spiritual kita. Perubahanperubahan tersebut memerlukan kehadiran kekuatan penyeimbang berupa nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diyakini manusia, demi menjaga harkat kemanusiaannya di dunia material di sekitarnya yang senantiasa berubahubah. Pada gilirannya, istiqamah menjadi dasar untuk menjaga diri manusia
dalam menghadapi perubahan sebagai fakta selalu ada dan tetap akan terjadi.

Untuk alasan ini, surat al-Fatihah sebagai pembukaan kitab suci bagi umat Islam, diawali dengan pujian kepada Sang Maha Pencipta alam semesta, manusia dan jin, serta segala sesuatu yang ada di sana, baik berupa material yang memiliki kehidupan maupun yang tidak memilikinya. Kemudian di dalam surat itu disebutkan bahwa Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap semua ciptaan-Nya. Kasih sayang-Nya umum, dan mencakup seluruh ciptaanNya di dunia ini, karena Dia جل جلاله tidak menciptakan mereka untuk sesuatu yang sia-sia, juga tidak menciptakan mereka untuk disiksa, serta tidak menciptakan mereka dan membiarkannya merana dalam menjalani kehidupan. Allah SWT telah menciptakan bagi mereka sarana kehidupan yang berada di langit dan di bumi, serta menjaga dan memeliharanya, agar mereka mampu memikul dua sisi amanat yang dipercayakan kepada mereka. Pertama, mereka diberi amanat sebagai khalifah di muka bumi dan memakmurkannya. Kedua, mereka diharapkan bisa bersyukur, mengesakan, dan ikhlas beribadah kepada-Nya. Terkait dengan rahmat yang spesial; maka sesungguhnya ia adalah rahmat yang dikhususkan buat para hamba-Nya yang beriman, yang telah melaksanakan dengan baik dua sisi amanat yang diberikan kepada mereka di
dunia ini. Sehingga mereka berhak mendapatkan rahmat-Nya di akhirat, sebagai tempat menetap dan tempat peristirahatan terakhir setelah perjalanan panjang duniawi. Oleh karena itu, urutan ilahi ayat-ayat di dalam surat al-Fatihah tersusun dengan sangat bijak yang diawali dengan penegasan akan ketuhanan Allah SWT atas ciptaan-Nya; kemudian kepastian akan rahmat-Nya berupa penyediaan berbagai sarana kehidupan di dunia ini dan melengkapinya dengan penjelasan mengenai hakikat kehidupan mereka di dunia hingga hari kiamat kelak. Semua itu dimaksudkan agar para pelaku kesalahan bisa menerima balasannya, dan orang yang ikhlas beribadah bisa menerima pahalanya. Allah SWT berfirman:
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Pemilik hari Pembalasan”. (Q.S. al-Fatihah [1]: 1-4).

Ini adalah pesan Allah SWT kepada makhluk ciptaan-Nya, yang dimulai dengan pujian, pengakuan akan ketuhanan, dan penegasan tentang hakikat makhluk yang diciptakan oleh-Nya tidak sia-sia, namun ada hari di mana mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka lakukan dalam hidup di dunia ini; yaitu Hari Pembalasan, yang di dalamnya terungkap
hakikat agama yang diridhai Allah untuk ciptaan-Nya, dan orang yang taat di dalam mengesakan dan beribadah hanya kepada-Nya. Oleh karena itu doa orang-orang mukmin untuk keselamatan dirinya di dunia dan di akhirat adalah: “Bimbinglah kami ke jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat”. (Q.S. al-Fatihah [1]: 6-7).

Bimbingan ke jalan kebenaran mungkin bisa dicapai, tetapi perlu ketekunan dan keteguhan di dalamnya mengingat adanya berbagai perubahan yang melingkupi manusia yang dirinya juga gampang berubah; sehingga istiqamah sangat diperlukan, dan ini bukan sesuatu yang mudah. Untuk mencapainya perlu kesungguhan yang diiringi dengan permohonan bantuan
kepada Allah SWT. Istiqamah di jalan yang lurus, teguh di dalam memegang nilainilai dan prinsip-prinsip kemanusiaan tertinggi, yang terlepas dari syubhat dan hawa nafsu, merupakan sesuatu yang mesti dilaksanakan sesuai dengan ajaran agama ilahi yang bijak; yang sejalan dengan tauhid dan penghambaan kepada-Nya, yang diiringi dengan permohonan bantuan kepada Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, serta permohonan petunjuk kepada jalan yang lurus hingga hari kiamat kelak. Atas dasar itu, buku ini dibagi menjadi tiga bab utama, yaitu: Bab Satu: Ibadah, Istiqamahlah di dalam Menjalankannya. Bab Dua: Istianah, Meminta Pertolongan Allah, Terus Lakukanlah. Bab Tiga: Hidayah (Petunjuk Allah), Ikutilah dengan Baik.

Masing-masing bab tersebut berisi berbagai sub judul berbeda, yang memberikan penjelasan tentang alasan-alasan dan implikasi istiqamah dalam beribadah dan bertauhid di saat manusia memohon pertolongan kepada Allah SWT pemilik Arsy yang Maha Mulia. Dan bagaimana hidayah Allah SWT membimbing manusia kepada penghambaan kepada-Nya dan pengesaan-Nya;
serta beristiqamah di atas jalan Allah yang lurus, yang diridhai oleh-Nya.