Pembangunan sebuah kota tidak pernah menjadi tugas pemerintah semata. Dalam beberapa tahun terakhir, kita mengenal pendekatan pembangunan berbasis sinergi hexahelix, yakni kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas atau masyarakat, media massa, serta lembaga keuangan, dalam menciptakan pembangunan yang berkelanjutan dan berdampak luas. Masing-masing pihak memiliki peran dan cara kontribusi yang berbeda sesuai dengan kapasitas dan keahliannya.
Masyarakat dari kalangan para penulis dan pegiat literasi pun memiliki ruang pengabdian yang tidak kalah penting dalam membangun kota. Mereka membangun melalui gagasan, narasi, dokumentasi sejarah, kritik sosial, refleksi budaya, hingga harapan-harapan masa depan yang dituangkan dalam tulisan. Dari tulisan-tulisan itulah sebuah kota tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga memiliki ingatan, identitas, dan jiwa.
Masyarakat tidak akan pernah mengetahui kisah di balik bangunan-bangunan heritage di kawasan Kayutangan, memahami perubahan wajah Kota Malang dari masa ke masa, ataupun mengenali nilai sejarah yang tersembunyi di berbagai sudut kota, apabila tidak ada orang-orang yang bersedia menuliskannya. Kita mengetahui kisah di balik lahirnya basa walikan yang hanya ada di Malang, hingga tercetusnya kata Arema (Arek Malang) yang sekarang menjadi identitas warga yang dibanggakan melalui karya tulis pendahulu. Tulisan pun menjadi ruang untuk merawat memori kolektif sekaligus jembatan dialog antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Buku Menulis Malang: Gagasan dan Harapan untuk Kota di Masa Depan ini menghadirkan dua puluh penulis dengan beragam perspektif tentang Kota Malang. Ada yang mengangkat romantisme sejarah kota, ada yang menyoroti transformasi sosial dan budaya, ada pula yang menyampaikan kritik konstruktif terhadap berbagai kebijakan dan wajah pembangunan kota hari ini. Sebagian tulisan memberikan apresiasi terhadap pengembangan kawasan heritage, sementara ada juga yang menawarkan sudut pandang berbeda. Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar dan justru penting dalam kehidupan kota yang sehat dan demokratis.
Di dalam buku ini juga hadir gagasan-gagasan sederhana namun bermakna, seperti harapan agar fasilitas publik, termasuk perpustakaan umum, dapat lebih ramah terhadap kebutuhan masyarakat. Perpustakaan tidak hanya dipandang sebagai fasilitas administratif yang mengikuti jam kerja formal kantor pemerintahan, tetapi juga sebagai ruang hidup yang dapat dinikmati keluarga di akhir pekan, tempat anak-anak bertumbuh bersama literasi, serta ruang interaksi publik yang memperkuat kualitas kehidupan masyarakat kota.
Berbagai ide, kritik, apresiasi, dan harapan yang tertuang dalam buku ini menunjukkan bahwa rasa memiliki terhadap kota dapat diwujudkan dalam banyak cara. Menulis adalah salah satunya. Tulisan mampu menjadi bentuk partisipasi sosial, medium edukasi publik, sekaligus warisan pemikiran bagi generasi mendatang. Semoga buku Menulis Malang: Gagasan dan Harapan untuk Kota di Masa Depan ini dapat menjadi sumber inspirasi, ruang refleksi, sekaligus pemantik kolaborasi seluruh kalangan untuk terus membangun Kota Malang yang maju, inklusif, berbudaya, dan berdaya saing.
